Cara mengatasi anak yang susah makan (GTM)

kerangb44

Apakah Bunda sering merasa cemas dan frustrasi saat jam makan tiba? Apakah si Kecil lebih suka mengunci mulutnya rapat-rapat atau bahkan menolak makanan yang disajikan dengan susah payah? Jika jawabannya ‘ya’, Anda tidak sendiri. Jutaan orang tua di seluruh dunia menghadapi tantangan yang sama, yaitu cara mengatasi anak yang susah makan (GTM).

Perasaan khawatir terhadap asupan gizi anak adalah hal yang wajar. Kita semua menginginkan yang terbaik untuk tumbuh kembang mereka. Namun, tahukah Anda bahwa seringkali, di balik “Gerakan Tutup Mulut” anak, ada alasan-alasan yang bisa kita pahami dan atasi?

Artikel ini hadir sebagai panduan mendalam Anda. Saya akan berbagi strategi praktis dan tips berbasis pengalaman untuk membantu mengubah waktu makan menjadi momen yang lebih positif dan menyenangkan. Mari kita selami bersama, bagaimana cara mengatasi anak yang susah makan (GTM) dengan penuh kesabaran dan strategi.

Memahami Apa Itu Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak

Istilah “GTM” atau Gerakan Tutup Mulut, sering digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana anak menolak untuk makan atau sangat pemilih terhadap makanannya. Ini bisa berarti anak menutup mulut saat disuapi, membuang makanan, atau hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan tertentu.

Kondisi ini umum terjadi pada anak usia balita, terutama saat mereka mulai menunjukkan kemandirian dan mengembangkan preferensi rasa. GTM bukanlah indikasi Anda orang tua yang gagal, melainkan sebuah fase yang bisa dilewati dengan pendekatan yang tepat.

Penting untuk diingat bahwa GTM bisa jadi merupakan cara anak mengekspresikan diri, baik itu karena tidak suka tekstur, rasa, atau bahkan hanya ingin menegaskan kontrolnya. Memahami akar masalahnya adalah langkah pertama dalam cara mengatasi anak yang susah makan (GTM).

Strategi Efektif Mengatasi Anak Susah Makan (GTM)

Berikut adalah beberapa strategi inti yang terbukti efektif dalam membantu anak melewati fase GTM:

1. Ciptakan Lingkungan Makan yang Positif dan Menyenangkan

Waktu makan seharusnya menjadi momen yang tenang dan menyenangkan, bukan medan perang. Hindari memaksakan anak makan atau menciptakan suasana tegang dengan marah-marah.

Seperti kisah Ibu Dini, yang dulu selalu menyuapi anaknya sambil membujuk dan sedikit mengancam, akhirnya menyadari bahwa anaknya justru semakin menolak. Setelah ia mengubah pendekatan menjadi lebih santai, berbicara ringan tentang makanan di piring, dan membiarkan anaknya menjelajahi makanan, perlahan anaknya mulai lebih terbuka.

Fokus pada interaksi positif, biarkan anak menikmati prosesnya. Jadikan meja makan sebagai tempat bercerita dan berbagi, bukan tempat adu argumen.

2. Tawarkan Pilihan dan Beri Anak Kontrol (dalam Batasan)

Anak-anak di usia tertentu mulai ingin merasa mandiri. Memberi mereka sedikit kontrol atas apa yang mereka makan bisa sangat membantu. Ini adalah poin kunci dalam cara mengatasi anak yang susah makan (GTM).

Alih-alih berkata, “Kamu harus makan brokoli ini!”, coba ubah menjadi, “Bunda punya brokoli dan wortel hari ini, kamu mau coba yang mana dulu?” Atau, “Kamu mau makan nasi dengan lauk ayam atau telur?”

Skenario ini dialami oleh Ayah Budi. Anaknya, Rio, sering menolak sayuran. Ayah Budi kemudian mulai menawarkan dua pilihan sayuran setiap makan. Meskipun Rio hanya mengambil sedikit, Ayah Budi merasa puas karena Rio mulai menunjukkan minat dan bukan penolakan mutlak.

Kontrol yang terbatas ini memberi anak rasa otonomi tanpa mengorbankan nutrisi yang seimbang.

3. Libatkan Anak dalam Proses Persiapan Makanan

Ketika anak terlibat dalam proses pembuatan makanan, mereka cenderung merasa lebih memiliki dan tertarik untuk mencicipinya. Ini adalah trik psikologis yang sangat ampuh.

Ajak mereka berbelanja bahan makanan, biarkan mereka memilih buah atau sayuran yang menarik perhatiannya. Di dapur, berikan tugas sederhana yang aman, seperti mencuci sayuran (di bawah pengawasan), mengaduk adonan, atau menata piring.

Misalnya, Ibu Rina yang sering mengajak putrinya, Lia, membuat kue sehat atau salad buah. Lia akan dengan bangga memakan hasil karyanya sendiri, bahkan makanan yang sebelumnya tidak ia sentuh.

Melalui pengalaman langsung ini, anak membangun hubungan positif dengan makanan dan memahami dari mana asalnya.

4. Terapkan Aturan “10-15 Kali Mencoba” dengan Kesabaran

Apakah Anda tahu bahwa seorang anak mungkin perlu mencoba makanan baru hingga 10-15 kali sebelum mereka mau menerimanya? Ini bukan mitos, melainkan fakta yang didukung oleh penelitian.

Jangan menyerah jika anak menolak makanan pada percobaan pertama. Terus tawarkan makanan baru secara berkala, dalam porsi kecil, tanpa paksaan. Penyajian yang berulang ini membangun keakraban.

Pernahkah Anda mencoba memperkenalkan alpukat kepada anak Anda? Mungkin awalnya ia menolak karena teksturnya. Tetapi dengan menawarkannya lagi di hari lain, dicampur dengan buah lain, atau disajikan dalam bentuk stik, lambat laun ia mungkin akan terbiasa dan menyukainya.

Konsistensi dan kesabaran adalah kunci utama dalam cara mengatasi anak yang susah makan (GTM) ini. Jangan membuat tekanan pada anak untuk harus menghabiskannya.

5. Variasi adalah Kunci: Bentuk, Warna, dan Tekstur

Anak-anak adalah makhluk visual. Makanan yang menarik secara visual dan memiliki variasi tekstur bisa membangkitkan selera mereka. Monotoni adalah musuh nafsu makan anak.

  • Bentuk Menarik: Potong roti, buah, atau sayuran menjadi bentuk-bentuk lucu (bintang, hati, hewan) menggunakan cetakan.
  • Warna-warni: Sajikan makanan dengan perpaduan warna yang cerah dari berbagai jenis buah dan sayur. Misalnya, salad buah dengan warna merah stroberi, hijau kiwi, oranye mangga.
  • Tekstur Berbeda: Kombinasikan makanan renyah dengan lembut, atau cair dengan padat. Anak mungkin menolak brokoli yang direbus biasa, tapi mungkin mau mencoba brokoli kukus yang lebih renyah.

Seorang teman saya, Ibu Siti, berhasil membuat anaknya makan sayuran dengan menyembunyikannya di dalam bakso atau nugget buatan sendiri. Ia juga sering membuat nasi menjadi bola-bola kecil atau menambahkan parutan wortel ke omelet.

Kreativitas Anda dalam menyajikan makanan bisa menjadi pembeda besar dalam cara mengatasi anak yang susah makan (GTM).

6. Hindari Distraksi Selama Waktu Makan

Gadget, televisi, atau mainan bisa menjadi pengalih perhatian terbesar saat makan. Ketika anak fokus pada layar, mereka cenderung makan tanpa kesadaran akan sinyal kenyang tubuhnya.

Buat aturan tegas: tidak ada gadget atau televisi selama waktu makan. Dorong anak untuk fokus pada makanan di piring dan interaksi keluarga.

Keluarga Pak Heru dulunya selalu makan sambil menonton TV. Anaknya, Fio, seringkali makan sangat lama atau tidak menghabiskan makanannya. Setelah mereka memberlakukan “zona bebas gadget” saat makan, Fio menjadi lebih cepat menghabiskan makanannya dan lebih menikmati obrolan bersama keluarga.

Lingkungan yang tenang membantu anak membangun kesadaran akan makanan dan proses makannya.

Tips Praktis Menerapkan Cara Mengatasi Anak yang Susah Makan (GTM)

Setelah memahami strateginya, kini saatnya menerapkan tips praktis agar Anda tidak kewalahan:

  • Jadwalkan Waktu Makan Teratur: Tetapkan jadwal makan utama dan camilan yang konsisten setiap hari. Ini membantu tubuh anak mengenali pola lapar dan kenyang.
  • Sajikan Porsi Kecil: Jangan membanjiri piring anak dengan porsi besar. Porsi kecil yang bisa dihabiskan lebih baik daripada porsi besar yang membuat mereka merasa tertekan dan tidak mampu.
  • Hindari Camilan Terlalu Dekat Waktu Makan: Pastikan ada jeda yang cukup antara camilan dan makan utama agar anak merasa lapar saat jam makan tiba.
  • Sajikan Makanan Baru Bersama Favorit: Perkenalkan makanan baru dalam jumlah kecil di samping makanan yang sudah ia sukai. Ini mengurangi tekanan dan membuat makanan baru tidak terlalu asing.
  • Biarkan Anak Bermain dengan Makanan: Terkadang, anak perlu menyentuh, mencium, bahkan meremas makanan untuk merasa nyaman dengannya. Ini adalah bagian dari eksplorasi sensorik.
  • Makan Bersama Keluarga: Makan bersama adalah kesempatan emas bagi anak untuk belajar dari contoh. Mereka akan melihat orang tua menikmati berbagai jenis makanan.
  • Jadilah Contoh yang Baik: Anak akan meniru kebiasaan makan Anda. Jika Anda makan sayuran dengan gembira, kemungkinan besar mereka juga akan tertarik.
  • Jangan Pernah Memaksa atau Mengancam: Memaksa makan hanya akan menciptakan trauma dan asosiasi negatif terhadap makanan.
  • Batasi Susu dan Jus Sebelum Makan: Cairan dapat mengisi perut anak dan membuat mereka merasa kenyang sebelum makan makanan padat.

FAQ Seputar Cara Mengatasi Anak yang Susah Makan (GTM)

1. Apakah GTM itu normal pada anak?

Ya, GTM atau picky eating (pemilih makanan) adalah fase yang sangat umum pada anak-anak, terutama balita. Ini seringkali merupakan bagian dari perkembangan normal mereka saat mereka menegaskan kemandirian dan mengembangkan preferensi rasa. Umumnya, sebagian besar anak akan melewati fase ini.

2. Kapan saya harus khawatir dan membawa anak ke dokter terkait GTM?

Anda perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi jika:

  • Anak menunjukkan penurunan berat badan atau gagal menambah berat badan.
  • Perkembangan anak terhambat.
  • Anak menolak seluruh kelompok makanan (misalnya, semua sayuran atau semua protein).
  • Anak menunjukkan tanda-tanda alergi makanan.
  • Anak mengalami kesulitan menelan atau muntah secara teratur.
  • GTM disertai dengan masalah perilaku makan lainnya yang ekstrem.

Dokter dapat memeriksa apakah ada masalah medis yang mendasari atau memberikan rujukan kepada spesialis.

3. Bagaimana jika anak hanya mau makan satu jenis makanan saja?

Ini disebut “food jags”. Terus tawarkan berbagai jenis makanan lain di setiap waktu makan, tetapi tanpa paksaan. Jangan menyerah. Anda bisa mencoba menyajikan makanan kesukaannya di samping satu jenis makanan baru. Perlahan-lahan, coba variasikan cara penyajian makanan favoritnya atau berikan sedikit modifikasi.

4. Berapa lama waktu yang ideal untuk satu sesi makan?

Idealnya, satu sesi makan tidak lebih dari 20-30 menit. Jika anak belum menghabiskan makanannya setelah waktu tersebut, singkirkan piringnya tanpa komentar negatif. Ini mengajarkan anak bahwa waktu makan memiliki batasan dan membantu mereka memahami rasa lapar dan kenyang.

5. Apa yang harus dilakukan jika anak benar-benar tidak mau makan sama sekali?

Pertama, jangan panik. Pastikan tidak ada masalah medis yang mendasari (lihat poin FAQ #2). Lalu, evaluasi lingkungan makan dan kebiasaan Anda. Apakah ada terlalu banyak tekanan? Apakah ada distraksi? Apakah mereka kenyang karena camilan? Tawarkan makanan lagi di jam makan berikutnya. Jangan tawarkan alternatif makanan lain secara langsung, karena ini bisa mengajar anak bahwa jika menolak makanan utama, mereka akan mendapatkan yang lebih disukai.

Kesimpulan

Mengatasi anak yang susah makan (GTM) memang membutuhkan kesabaran, kreativitas, dan konsistensi. Ingatlah bahwa ini adalah sebuah perjalanan, bukan perlombaan. Dengan memahami alasan di balik GTM dan menerapkan strategi yang tepat, Anda dapat mengubah waktu makan menjadi pengalaman yang lebih positif dan menyenangkan bagi seluruh keluarga.

Fokuslah pada menciptakan lingkungan yang suportif, memberikan pilihan, melibatkan anak, dan menjadi teladan yang baik. Percayalah pada diri Anda sebagai orang tua, dan percayalah pada anak Anda bahwa mereka akan belajar.

Jangan ragu untuk memulai menerapkan tips ini hari ini juga. Setiap langkah kecil adalah kemajuan. Anda pasti bisa!

Tinggalkan komentar